Senin, 19 Maret 2012

Ketua S-Man Sumsel: SFC Klub Profesional

Ketua Suporter Beladas Korwil SMS, Edi Ismail, menanggapi pelepasan lima pemain SFC sebagai sesuatu hal biasa saja.

Selaku klub profesional yang mengedepankan prestasi, pemain-pemainnya harus siap dicoret bila tidak mampu memberikan kontribusi maksimal kepada timnya.

"Saya sepakat dengan keputusan manajemen. SFC ini klub profesional jadi tidak ada istilah pemain lokal ataupun pemain asing. Siapa yang berprestasi maka sudah barang tentu akan dipertahankan," katanya ketika dihubungi Sripoku.com, Senin (19/3/2012).

Namun Edi Ismail tetap berharap kepada manajemen tetap memperhatikan pemain-pemain asli Sumsel.yang berprestasi.

"Saat ini ada beberapa pemain asli Sumsel yang bermain di klub luar, seperti Fauzi Toldo, Amirul Mukmin dan yang lainnya bila dinilai pelatih dan manajemen memiliki bakat dan berprestasi, kenapa tidak.mereka dipanggil kembali ke Palembang," jelasnya.

Sementara untuk pemain.lokal, Jeki Arisandi dan Ilham Jayakusuma yang dilepas, dikatakan Edi, bisa dibilang langkah yang tepat.

Pasalnya performa Ilham.dinilai sudah jauh menurun dan sulit bersaing dengan rekannya di lini depan.

Sementara Jeky umurnya.relatif masih muda, jadi.masih banyak waktu untuk menambah jam terbang di klub lain.

"Kalau di SFC kan dia tidak.pernah main sama sekali, tentu ini tidak akan baik bagi perkembangan mentalnya.
Pemain akan merasa demam panggung ketika dimainkan.sementara jam terbangnya.belum begitu banyak,".katanya.

Untuk pemain lainnya yang.dilepas, seperti Poci, sebenarnya sudah lama diusulkan Edi kepada manajemen untuk segera dilepas.

Pemain asal Ternate ini dinilai bisa merusak pola permainan tim SFC dengan permainan individu yang kerap dilakukannya, sementara SFC lebih mengutamakan kerjasama tim.

"Sejauh ini pola permainan SFC saya lihat sudah solid dan performanya jauh meningkat semenjak dilatih Kashartadi-Kayamba. Tinggal lagi menambah satu pemain asing Asia lagi untuk posisi depan," jelasnya.

@sripoku

Inilah Pemenang Undian Tiket SFC


Manajemen Sriwijaya FC memberikan tenggat waktu selama dua minggu bagi pemenang undian tiket penonton untuk menukarkan hadiahnya.

Sekretaris SFC, Faisal Mursyid, mengatakan penukaran potongan tiket yang menang ini dapat dilakukan di Sekretariat SFC Kompleks Palembang Square Jl Angkatan 45/Kampus POM IX No R 130.

Syaratnya hanya cukup dengan membawa indentitas diri, baik itu berupa KTP, SIM ataupun lainnya.

"Kita beri waktu dua minggu untuk mengambil hadiahnya. Jadi apabila sampai tanggal 2 April tidak juga diambil maka akan dianggap hangus," jelas Faisal kepada Sripoku.com, Senin (19/3/2012).

Faisal menambahkan, pemberian hadiah ini dalam upaya untuk memanjakan para penggemar sepak bola di Sumatera Selatan, khususnya kepada pecinta SFC.

Maka dari itu tidak hanya selesai sampai di sini saja, sebab pada akhir putaran kedua pun akan tetap dilakukan pengundian tiket penonton ini.

"Sebelumnya manajemen juga telah membuat inovasi baru berupa design baru tiket dengan harga yang tidak berubah. Pada putaran kedua mendatang saya belum tahu apakah akan mengalami kenaikan harga atau tidak, sebab itu sangat tergantung dari antusias penonton," tutupnya.

INILAH PEMENANG UNDIAN TIKET SFC:

Hadiah No Tiket Pertandingan
Motor 032946 (Barat) SFC Vs Persiram Rajaampat
BlackBerry 03103 (Utara) SFC Vs Persisam Samarinda
BlackBerry 06435 (Barat) SFC Vs Persisam Samarinda
Televisi 02509 (VIP) SFC Vs Persisam Samarinda
Televisi 01035 (VIP) SFC Vs Mitra Kukar


@sripoku.com

Manifesto Palsu PSSI, La Nyalla Cuek


BARU saja tuntas gelar KLB untuk memilih pengurus PSSI 2012-2016, KPSI sudah dicemarkan. Ketua Umum PSSI terpilih La Nyalla Mattalitti memilih cuek.

Pra-Kongres yang digelar Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) pada 21 Januari 2012 melahirkan manifesto PSSI baru. Isinya, tentu, berbagai langkah dan kebijakan yang akan diambil para pengurus PSSI baru yang dipilih dalam Kongres Luar Biasa (KLB) 18 Maret 2012.

KLB baru saja berlalu. Kepengurusan PSSI 2012-2016 pun telah terpilih. La Nyalla dan Rahim Soekasah terpilih sebagai Ketua dan Wakil Ketua Umum PSSI. Mereka bersama 9 anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI pun siap jalankan manifesto PSSI yang disepakati para anggota PSSI dalam Pra-Kongres 21 Januari 2012.

Namun, belum genap 24 jam mereka terpilih, sudah beredar manifesto palsu PSSI. Salah satu isi dari manifesto palsu PSSI itu adalah: daripada menyerah dan melakukan rekonsiliasi, lebih baik menerima sanksi FIFA dengan alasan yang menerima sanksi bukan hanya klub pendukung KPSI, namun juga seluruh anggota PSSI.

"Poin itu jelas palsu. Ada 6 poin dalam manifesto PSSI yang sebenarnya. Dan, tidak ada yang berisi seperti itu. Karena itu palsu, saya yakin itu juga kerjaan orang-orang palsu," tegas Sefdin Syaifudin, Sekretaris Organizing Committee KLB yang membantu KPSI menggelar KLB 18 Maret 2012.

Ketua Umum PSSI La Nyalla justru cuek. Ia enggan berkomentar tentang manifesto palsu PSSI itu. Ia memilih fokus membangun dan melaksanakan program-program PSSI di bawah kepemimpinannya, termasuk menjalankan manifesto PSSI yang diputuskan dalam Pra-Kongres.

"Cuekin saja. Masyarakat sudah makin tahu siapa yang membuat sepakbola Indonesia ini rusak," tegas La Nyalla.

Isi manifesto PSSI yang diputuskan dalam Pra-Kongres 21 Januari 2012:

1. Perlu melakukan reformasi Statuta PSSI, terutama pada aspek kedaulatan anggota, struktur organisasi, dan aspek decision policy.
2. Perlu memberikan penekanan pada penguatan liga profesional yang independen.
3. Perlu melakukan reformasi liga amatir.
4. Perlu melakukan penguatan pada kedaulatan klub.
5. Perlu melakukan dan membangun komunikasi intensif dengan FIFA, AFC, AFF, pemerintah, dan masyarakat.
6. Perlu memproteksi kredibilitas PSSI dari tindakan oknum-oknum PSSI yang melakukan tindakan hukum tidak sesuai dengan amanah Statuta PSSI, tidak menjalankan hasil kongres, dan tidak mengambil keputusan pada level Rapat Komite Eksekutif sebagaimana diamanatkan pasal 38 Statuta PSSI.
Karena itu, menegaskan bahwa seluruh tindakan hukum yang diambil Djohar Arifin Husin termasuk, tapi tidak terbatas pada penunjukkan PT Liga Primer Indonesia Sportindo yang menyelenggarakan Liga Primer Indonesia yang tidak sesuai Statuta PSSI dan Hasil Kongres PSSI di Bali, tidak mengikat PSSI dan jadi tanggung jawab individu-individu yang terlibat di dalamnya.
Liga Indonesia adalah pengelola liga super yang sah menurut hukum sesuai statuta dan hasil Kongres Bali, dan karenanya mengingatkan semua pihak tidak melakukan hubungan hukum dengan Liga Primer Indonesia untuk menghindarkan dari kemungkinan akibat hukum yang terjadi.
Hasil Manifesto PSSI Baru akan dituangkan secara lengkap ke dalam dokumen yang khusus dibuat untuk itu dan jadi bagian tidak terpisahkan dari putusan Pra-Kongres PSSI-KPSI ini, untuk kemudian disampaikan kepada semua anggota PSSI, AFC, FIFA , dan masyarakat luas.
Berikut manifesto PSSI palsu:
1. Mengajukan mosi tidak percaya akan kepemimpinan Djohar Arifin karena melanggar Statuta PSSI dan Kongres Bali II.
2. Mencabut dukungan kepada djohar Arifin dan membekukan kepemimpinannya serta membubarkan semua anggota Exco yang masih aktif di PSSI dan mengangkat kembali anggota Exco yang dipecat oleh Djohar Arifin, yakni La Nyalla Mattalitti, Erwin Dwi Budiawan, roberto Rour, dan Tonny Aprilani.
3. Melaporkan bahwa 2/3 anggota PSSI telah siapkan menjalankan Extra Ordinary Congress atau Kongres Luar Biasa (KLB).
4. Tetap menolak sanksi apapun yang dijatuhkan oleh PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin.
5. Tidak menghadiri dan menganggap tidak sah Kongres Tahunan PSSI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 18 Maret 2012.
6. Membawa masalah pembelotan KPSI ke Badan Arbitrase Internasional untuk Olahraga (CAS).
7. Daripada menyerah dan melakukan rekonsiliasi lebih baik menerima sanksi FIFA, dengan alasan yang menerima sanksi bukan hanya klubpendukung KPSI namun juga seluruh anggota PSSI.

@12paz

FIFA & AFC Bakal Akui Hasil KLB


KLB selesai. Kepengurusan PSSI 2012-2016 telah terpilih. Djamal Aziz, salah satu anggota Exco PSSI, yakin hasil KLB bakal diakui FIFA, AFC, dan pemerintah.

Kongres Luar Biasa (KLB) hasil tuntutan lebih dari 2/3 anggota PSSI dalam Rapat Akbar Sepakbola Nasional (RASN) yang digelar Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) bersama Organizing COmmittee (OC) KLB berjalan lancar, Minggu (18/3).

Hajatan di Krakatau Ballroom Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, itu pun sukses memilih 11 Komite Eksekutif (Exco) yang terdiri atas 1 Ketua Umum, 1 Wakil Ketua Umum, dan 9 anggota Exco PSSI masa kerja 2012-2016.

Namun, seperti telah diketahui, pengurus PSSI sebelumnya di bawah pimpinan Djohar Arifin Husin belum membuka hati untuk menerima dan mengakui KLB yang menunjuk La Nyalla Mattalitti sebagai Ketua Umum PSSI 2012-2016.

Menyikapi hal itu, 1 dari 9 anggota Exco PSSI terpilih Djamal Aziz yakin, dengan berulirnya KLB yang taat pada prosedur dan aturan sesuai Statuta PSSI, FIFA, dan AFC sebagai induk seleuruh federasi sepakbola di dunia dan Asia akan mengakui hasil KLB itu. Tak terkecuali pemerintah, yakni Mennegpora dan KONI Pusat.

"Semua berjalan dengan baik dan lancar. KLB itu pun berjalan dengan aturan yang benar. Mulai dari persiapan hingga penyelenggaraannya, juga soal keabsahan para pesertanya. Dengan dasar itu, saya yakin legalitas atas hasil KLB akan diakui FIFA dan AFC," tegas Djamal.

"Begitu juga dengan pemerintah, yaitu Mennegpora dan KONI Pusat. Saya yakin mereka juga akan mengakui hasil KLB karena memang bergulir sesuai aturan yang ada," tambah Djamal yang juga duduk sebagai anggota Komisi X DPR RI.

Lebih jauh, Djamal yang ditemui seusai KLB digelar juga menanggapi hajatan Kongres Tahunan yang digelar Djohar dkk di Palangkaraya dan hasilnya, Djohar dkk akan melebur Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL).

"Saat sudah terpojok, mereka baru membuat keputusan itu. Coba itu dilakukan dari dulu, saya kira akan beda ceritanya. Mereka tidak punya idealisme untuk membangun sepakbola. Kalau mereka punya itu, saya juga yakin banyak yang akan mendukung mereka," ujar Djamal.

ksb@12paz

Menpora Serahkan Nasib PSSI ke CAS




Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng menyerahkan kejelasan nasib PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) ke CAS (Badan Arbitrase Internasionl untuk Olahraga) dan FIFA, walau dirinya memantau kongres luar biasa yang diadakan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI).




"Kami memantau adanya KPSI dan yang disebut kongres luar biasa, tetapi sampai ada penetapan dari FIFA atau dari CAS, the Court of Arbitration for Sport yang di Swiss, tentu saja pemerintah tetap berpegang pada yang resmi (PSSI versi Djohar Arifin)," kata Andi di Kementerian Keuangan, Senin, 19 Maret 2012.

Andi menjelaskan pemerintah tetap akan netral. "Pemerintah sifatnya netral. Melihat yang resmi saja dulu, sampai ada ketetapan yang berbeda, karena hal semacam itu pemerintah tidak bisa ikut campur. Yang penting, kalau pemerintah, dengar bagaimana penetapan dari FIFA," kata dia.

Andi juga mempersilakan jika KPSI mau mengajukan hasil kongres semalam ke CAS. "Kami mendengar mau melapor ke CAS, kami mempersilakan dan supaya jelas juga mana yang benar," kata dia.

Sebelumnya, PSSI telah melaksanakan kongres tahunan PSSI di Palangkaraya, sedangkan KPSI menggelar kongres di Ancol, Jakarta, hari Minggu kemarin. KPSI menyebut kongres mereka sebagai kongres luar biasa dan menetapkan La Nyalla Mattalitti dan Rahim Soekasah sebagai ketua umum dan wakil ketua umum baru PSSI.

Menurut Andi, pemerintah tetap mengakui satu asosiasi sepak bola. "PSSI tetap satu, ya resmi begitu, toh," kata dia.

Menyambung rencana pemerintah kembali memfasilitasi rekonsiliasi di antara PSSI dan KPSI, Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat ini berkata, "Kan sudah dengan KONI. Tapi, kalau soal begini, lebih baik masuk ke CAS sajalah, dan di CAS bisa ditentukan siapa yang sah."

@12paz

Kronologi Lengkap Perseteruan PSSI dan KPSI


14 September 2011: Anggota Komite Eksekutif PSSI mengancam akan melakukan KLB jika sistem kompetisi Liga Indonesia diubah. Ancaman KLB dilayangkan La Nyalla hanya tiga bulan setelah Djohar Arifin dilantik sebagai Ketua Umum PSSI


20 September 2011: PSSI mengumumkan Liga Indonesia tetap diikuti 18 tim hasil kompetisi musim lalu


21 September 2011:

-La Nyalla mengusulkan agar orang-orang eks pengurus PSSI Nurdin Halid dimasukkan di struktur kepengurusan PSSI Djohar Arifin. La Nyalla mengusulkan nama Hinca Panjaitan, Djoko Driyono, Tigor Shalom, agar masuk dalam kepengurusan PSSI.

- Rapat komite eksekutif berlangsung di Hotel Sahid mengubah format kompetisi dari 18 tim di tambah enam klub baru. Enam tim ini merupakan tim eks LPI yang dileburkan bersama Liga Super Indonesia dan membentuk kompetisi baru bernama Indonesia Premier League (IPL).

-Keputusan membentuk IPL memecah anggota exco PSSI menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah yang mendukung; Djohar Arifin, Farid Rahman, Sihar Sitorus, Tuti Dau, Mawardi Nurdin, Widodo Santoso, dan Bob Hippy. Yang menolak; La Nyalla Mattalitti, Toni Aprilani, Roberto Rouw, dan Erwin Dwi Budiman.

- Di rapat exco ini juga dihasilkan keputusan soal nasib dualisme klub seperti Persebaya, Persija Jakarta, dan Arema. Exco akhirnya menghasilkan keputusan bulan mengakui Persija versi Bambang Sucipto, Arema versi Muhammad Nur, serta Persebaya hasil koalisi Cholid Goromah dan Wisnu Wardhana. Kesepakatan bulan yang dibuat oleh kubu Djohar dan La Nyalla cs nantinya menghasilkan dualism Persija PIL dan ISL, Arema IPL dan ISL, dan Persebaya IPL dan Persebaya Divisi Utama.


23 September 2011: Kepengurusan PSSI diumumkan. Nama-nama eks pengurus lama yang dicalonkan La Nyalla ditolak.


25 September 2011: La Nyalla amendeklarasikan gerakan untuk KLB PSSI. Dia merasa keputusna soal sostem kompetisi tidak melibatkannya yang saat itu sedang di luar arena rapat. Pandangan ini dibantah Toni APrilani. Menurutnya, La Nyalla sudah ditunggu kehadirannya, bahkan ditelepon untuk datang. “tidak benar itu. Kita sudah nunggu dia dan telepon dia, tapi tidak ada balasan,” kata Toni saat itu.


27 September 2011: Sejumlah perwakilan klub dan eks pengurus PSSI Nurdin Halid seperti eks anggota Komite Eksekutif, Muhammad Zein, Fery Paulus, dan Irawadi Hanafi, berkumpul d sebuah acara di Jakarta. Manajer Persija, Fery Paulus saat itu mengatakan, “Gerakan untuk PSSI? Tunggu tanggal mainnya!,” Menurut fery Paulus, klub LSI akan rapatkan barisan.


29 September 2011: Toni Aprilani mulai memperlihatkan sikap penentangan keras terhadap Djohar Arifin karena tidak setuju posisi PT Liga Indonesia sebagai pengelola kompetisi diambil alih PT Liga Prima Indonesia Sportindo.


12 Oktober 2011: PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) menyatakan telah mengikat kerjasama dengan MNC grup selaku pemegang hak siar IPL. PT LPIS mengaku juga telah berunding dengan ANTV tapi urung menghasilkan kesepakatan. Di pihak lain ANTV mengancam menggugat PSSI ke pengadilan akibat tidak menghormati ikatan kerjasama yang berdurasi 10 tahun.


13 Oktober 2011: Manager meeting IPL berlangsung ricuh. 14 klub menyatakan menolak ikut IPL dan tetap setia pada PT Liga dan Liga Super Indonesia. Inilah gerakan awal perlawanan klub LSI.


14 Oktober 2011: ANTV, PT Liga, dan La Nyalla Mattalitti menyatakan Liga Super Indonesia siap berputar yang diikuti oleh 14 tim di tambah empat tim promosi. La Nyalla mengatakan akan melaporkan Djohar ke FIFA karena memutar IPL


15 Oktober: IPL dibuka dengan memainkan laga Persib vs Semen Padang. Hanya 14 klub yang menyatakan ambil diri di kompetisi.


27 Oktober 2011: PT Liga Agelar RUPS untuk mempertanggungjawabkan laporan keuangan dan memilih pengurus baru. Harbiansyah Hanafiah dan sahril tahir ditunjuk sebagai petinggi PT Liga yang baru. Tpni Aprilani mengkritik pelaksanaaan RUPS yang seharusnya bisa dilakukan lebih cepat.


31 Oktober: PT Liga nyatakan Persib dan Sriwijaya FC bergabung ke LSI dan tinggalkan IPL. Total peserta IPL tinggal 12 klub.
1 November 2011: Komite Etika PSSI yang beranggotakan Todung Mulya Lubis, Komarudin Hidayat, Anis Baswedan cs, mengadakan rapat untuk membahas polemik sejumlah pengurus.


1 Desember 2011: LSI resmi berputar diikuti 18 klub. PSSI langsung melayangkan surat ke FIFA tentang LSI yang berputar tanpa izin federasi. Dualisme kompetisi dimulai.


13 Desember 2011:

-Rahmad darmawan (RD) mundur dari timnas karena merasa gagal memenuhi prestasi di Sea Games. RD juga menyatakan penolakannya terhadap pernyataan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin soal pelarangan pemain LSI memperkuat timnas.

-Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi kepada seluruh tim LSI. Hukuman degradasi dan sanksi pembekuan dijatuhkan.

-FIFA menjawab surat aduan La Nyalla mattalitti soal polemik PSSI. Menurut FIFA kemelut PSSI bisa diselesaikan lewat mediasi dan arbitrase.


14 Demeber 2011: Forum Pengprov PSSI (FPP) mengeluarkan 10 pernyataan yang mendukung kubu La Nyalla cs di PSSI, menolak IPL dan mendukung ISL, mendukung PRT Liga Indonesia, Dan menolak intervensi pihak manapun

16 Desember 2011: Pengprov terpecah dua. Yang pro PSSI melakukan acara konsolidasi di Semarang. Sedangkan FPP mengadakan pertemuan di Jakarta yang juga digagas La Nyalla Mattalitti


20 Desember 2011:

-Komite Etika ultimatum empat anggota exco untuk melakukan permintaan maaf pada PSSI karena melakukan fitnah personal terhadap Ketua Umum PSSI terkait soal kepemilikan pengelola kompetisi. Tindakan keempat exco yang justru melanggar kesepakatan organisasi dipandang sebagai pelanggaran serius. Bila tidak memenuhi poin keputusan Komite etik, La Nyalla cs diancam dipecat.

FIFA menyatakan bahwa Liga Super Indonesia adalah kompetisi sempalan (breakway) yang tidak diakui PSSI dan FIFA. PSSI diminta FIFA untuk mengambil tindakan agar LSI kembali dibawah control. FIFA mengeluarkan sejumlah poin saran yang di antaranya memberi tenggat pada klub LSI untuk kembali dibawah PSSI. Jika gagal, PSSI diperkenankan menjatuhkan sanksi. Seluruh perangkat FIFA dan pertandingan dilarang keras memimpin LSI. FIFA pun meminta daftar pihak yang terlibat di LSI. FIFA juga menyatakan pemain yang terlibat kompetisi sempalan dilarang bermain di agenda FIFA. PSSI diberi tenggat waktu hingga 22 Maret 2012 untuk menyelesaikan persoalan. Jika tidak, FIFA akan membawa persoalan PSSi ke rapat komite asosiasi untuk dijatuhi kemungkinan sanksi.


22 Desember 2011: PSSI bentuk tim rekonsiliasi yang diberi waktu dua minggu untuk melakukan upaya persuasi ke klub LSI untuk kembali ke PSSI.


28 Desember: KPSI terbentuk dengan Ketuanya Toni Aprilani dan wakilnya La Nyalla Matalitti. Selain itu, dua eks anggota exco Roberto Rouw dan Erwin Dwi Budiman turut bergabung. KPSI menyatakan mengambilalih kewenangan PSSI selaku otoritas epak bola Indonesia. KPSI juga dihuni oleh eks pengurus Nurdin seperti Gusti Randa dan Hinca Panjaitan. KPSI putuskan gulirkan KLB pada maret 2011.


29 Desember 2011: KPSI bersama PT Liga melakukan keterangan pers yang intinya menyatakan 452 anggota PSSI atau lebih dari 2/3 anggota PSSI mendukung KPSI memutar KLB


30 Desember 2011: FIFA nyatakan tidak akui KPSI dan meminta PSSI untuk terus mendorong klub kembali ke federasi. Jika tidak, PSSI diminta untuk mengambil tindakan.


2 Januari 2012: KPSI gugat PSSI ke CAS dan FIFA. KPSI meminta CAS menganulir keputusan pemecatan La Nyalla, dan tuntutan KLB. Di pihak lain Persipura juga menggugat PSSI dan AFC prihal pencoretan mereka dari Liga Champions Asia.


10 Januari 2012: PSSi melakukan verifikasi surat tuntutan KLB dari Pengprov. PSSi menyatakan klaim 452 dukungan KLB salah karena nyatanya hanya 320 anggota yang menuntut KLB PSSI yang artinya kurang dari 2/3. PSSI nyatakan KLB tidak memenuhi syarat. Sebagai gantinya PSSi akan gelar kongres tahunan pada Maret 2012. KPSI tolak verifikasi PSSI. KLB tetap dicanagkan KPSI.


17 Januari 2012: FIFA mendorong Kongres Tahunan PSSI, bukan KLB. FIFA berpatokan pada kongres Bali.


2 Februari 2012 Gugatan Persipura atas PSSI dikabulkan CAS lewat putusan sela. Perspiura bermain di LCA


8 Februari 2012: PSSI nyatakan kemungkinan akui LSI. KPSI menilai pernytaan PSSI sudah terlambat. KPSI ngotot KLB. Sebelumnya KONI telah pertemukan KPSI dan PSSI untuk rekonsiliasi. KONI mengundang Djohar ARifin Husin dan Nirwan bakrie dalam sebuah pertemuan rekonsiliasi.


29 Februari 2011: Timnas Indonesia yang dihuni pemain IPL dibantai Bahrain 0-10. Kekalahan yang langsung menimbulkan kecaman dan dimanfaatkan KPSI. “Kekalahan Indonesia atas Bahrain 10-0 merupakan catatan paling memalukan dalam sejarah sepak bola Indonesia. Kekalahan tersebut dikarenakan, Timnas adalah produk karbitan dari mesin IPL. Agar tidak mencetak sejarah buruk lagi, maka revolusi PSSI adalah harga mati, dan KLB adalah langkah pasti.Djohar dkk monggo silahkan mundur diri dari arena sepak Bola karena kepengurusanya hanya melahirkan petaka Sepak Bola Indonesia,” ungkap La Nyalla.


Maret 2012:

-KONI bentuk tim kecil rekonsiliasi yang terdiri dari perwakilan PSSI dan KPSI

-Persipura cabut tuntutan ke CAS


15 maret 2012: KONI keluarkan Sembilan butir pernyataan yang intinya meminta penyelesaian polemik PSSI diselesaikan dengan mediasi atau arbitrase. Keputusan Arbitrase diminta KONI untuk dipatuhi PSSI dan KPSI. Jika polemik tidak kunjung berakhir, KONI akan ambil alih kenda;I PSSI.


16 Maret 2012:

-FIFA nyatakan tidak anggap apa yang dinamakan Kongres KPSI yang akandigelar KPSI 18 maret. FIFA nyatakan hanya mengetahui Kongres Tahunan PSSI di Palangkaraya. “Harap dicatat, FIFA tidak pernah berpikir hadir dalam kegiatan yang disebut "Kongres KPSI". Kami percaya informasi ini dapat membantu,” tulis Media Departemen FIFA.

-CAS nyatakan tolak gugatan KPSI soal KLB PSWSI. CAS juga menyatakan tidak bisa membatalkan Kongres Tahunan PSSI


17 maret 2012: KPSI tidak bergeming dan tetap gulirkan kongres. 10 poin dihasilkan dalam kongres KPSI di antaranya siap menerima sanksi FIFA sebagai solusi penyelesaian polemik.


18 Maret 2012: KPSI gulirkan KLB yang akhirnya memilih La Nyalla mattalitti jadi Ketua PSSI baru versi KPSI. Kongres tidak dihadiri satupun [erwakilan AFC atau FIFA


18 Maret 2012—PSSI menggelar kongres di palangkaraya yang menghasilkan lima keputusan yang salah satunya mengaku LSI. Pengakuan LSI sebagai respon PSSI dilatarbelakangi solusi untuk menyelesaikan polemik dan menghindari sanksi FIFA untuk persepakbolaan Indonesia

Oleh: Abdullah Sammy/Wartawan Olahraga Republika

Akhirnya Kayamba Mendapatkan Cap Biru


Informasi mengenai kepastian Kayamba tentang masalah larangan bermain kini terjawab sudah, sore tadi pukul 18.25 WIB Kayamba bersama Keluarga didampingi Bapak Augie Bunyamin telah berangkat ke Singapura. Hasilnya? Alhamdulillah, Kayamba dapat memperkuat kembali Sriwijaya FC dan mendapatkan Cap Biru. Setelah mengurus semuanya dalam beberapa hari kedepan Kayamba akan balik ke Palembang.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden Sriwijaya FC, Bapak H. Dodi Reza Alex Noerdin, Bapak Bakti Setiawan, Bapak Faisal Mursyid, Bapak Eko Subakti (agen), Kepala Imigrasi Jakarta Selatan, serta do’a dari masyarakat Sumatera Selatan atas semua daya dan upaya untuk tetap memperjuangkan Kayamba tetap berada di Sriwijaya FC.

Kami juga meminta maaf atas kejadian ini, dan kami berharap semoga kisruh di PSSI kembali normal, sehingga kepastian tentang KITAS para pemain asing lainnya juga dapat berjalan dengan lancar. Amin.

Hendri Zainuddin
Dirtek PT SOM